struktur kumpulan puisi “Deru Campur Debu” kanya Chairil Anwar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide-ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran yang konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa (Sumardjo, 1994 : 3). Sastra sebagai ungkapan pribadi manusia, tentunya mengandung berbagai hal atau permasalahan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh sang pengarang dalam karangannya.

Oleh karena itu, hal-hal yang ingin diungkapkan sastrawan dalam karyanya adalah hal-hal yang berasal dan kehidupan sehingga dapat diresapi. Bahkan apa pun yang dilakukan sastrawan terhadap bahan yang telah dipilih dan diambil dan kehidupan, tujuan sastrawan sudahlah pasti. Melalui karyanya ia memperluas, memperdalam dan memperjernih penghayatan pembaca terhadap salah satu sisi kehidupan yang disajikan (Saini, 1990: 15).

Wellek dan Austin Warren (1995: 3) mendefinisikan sastra sebagai suatu kegiatan kneatif, sebuah karya seni. Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa karya sastra baik itu berupa sajak ataupun prosa, merupakan hasil dan kreativitas pengarang dalam mengungkapkan pengalaman, pemikiran, perasaan, ide-ide, semangat, keyakinan dalam bentuk karya sastra.

Oleh karena itu karya sastra adalah bagian eksistensial dan keberadaan manusia, karena Ia lahir sebagai bentuk ekspresi atau ungkapan pengalaman, pemikiran, perasaan, ide-ide, semangat ataupun keyakinan. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Taum (1987 : 20) “Sastra hadir sebagai bagian ekstensial dan keberadaan manusia. Pada mulanya sastra-sastra bersifat religius, menjadi media ekspresi pengalaman estetik dan mistik manusia dalam berhadapan dengan kekuatan alam (natural) dan ilahi (supernatural).

Sastra dan religi memiliki hubungan yang erat dan tidak terpisahkan. Atmosuwito (1989: 124) menyimpulkan bahwa kitab suci Al Qur’an selain berisi tulisan-tulisan suci (Secret Writing) agama Islam, juga mengandung tulisan sastra. Demikian juga dengan kitab suci Bible, Bhagawat Gita juga dikatakan sebagai buku-buku puisi dan kitab Amsal dikatakan sebagai kitab sastra bijak (wisdom literature). Lebih detail Atmosuwito (1989 : 126) mengungkapkan bahwa buku agama adalah sastra. Dan sastra adalah bagian dan agama.

Puisi sebagai bentuk karya sastra adalah hasil kreativitas pengarangnya. Hal ini juga berarti, bahwa dalam puisi terkandung berbagai hal yang berasal dan kontemplasi pengarangnya, baik itu berupa perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan yang oleh Atmosuwito disebut religiusitas atau perasaan keagamaan, ataupun berupa hasil kontemplasi pengarangnya terhadap kehidupan atau alam.

Penelitian tentang religiusitas dalam sastra masih sangat jarang dilakukan. Menurut sepengetahuan peneliti hanya terdapat satu penelitian yang mengkaji religiusitas dalam sastra yaitu satu penelitian yang dilakukan oleh Ratnawati, dkk yang berjudul Religiusitas Dalam Sastra Modern. Objek kajian penelitian tersebut adalah novel-novel jawa modern tahun 1920-1945. Ada pun penelitian tentang religiusitas dalam bidang sajak belum ada yang melakukannya secara mendalam. Melihat kenyataan tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk membahas atau mengakaji aspek religiusitas dalam puisi.

Ada pun karya sastra (puisi) dikatakan bermutu atau baik hams memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Dapat merekam isi jiwa pengarangnya
  2. Dapat dikomunikasikan kepada orang lain
  3. Sastra adalah sebuah keteraturan
  4. Penghiburan
  5. Sebuah integrasi
  6. Merupakan penemuan
  7. Merupakan ekspresi sastrawannya
  8. Sebuah karya sastra yang pekat
  9. Merupakan penafsiran kehidupan
  10. Sebuah pembahaman

 

Syajak Chairil Anwar adalah sajak yang baik, karena sajak-sajak Chairil Anwar memenuhi syarat-syarat suatu karya sastra (sajak) yang baik. Sebagai sajak yang baik, tentunya sajak-sajak Chairil Anwar dapat mencapai tujuan penulisan karya sastra sebagaimana yang diungkapkan oleh Saini (1990 : 15), yaitu mampu memperjernih, memperdalam penghayatan pembacanya terhadap masalah yang diangkat dalam sajak tersebut, tidak terkecuali masalah religiusitas yang terdapat dalam sajak-sajaknya.

Hadirnya sajak-sajak Chairil Anwar cukup banyak menarik perhatian para apresiator. Hal mi terbukti dengan adanya beberapa tanggapan dalam buku-buku ataupun surat kabar yang mengkaji sajak-sajak Chairil Anwar, namun dan sekian banyak penelitian tentang sajak Chairil Anwar belum ada yang mengakaji religiusitas yang terkandung di dalamnya secara mendetail. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji religiusitas yang terdapat dalam kumpulan sajak Chainil Anwar.

Sajak yang akan dikaji aspek religiusitasnya dalam penelitian ini, yang terapat dalam buku kumpulan sajak Chairil Anwar yang berjudul Deru Campur Debu. Ada beberapa alasan yang mendorong peneliti memilih sajak tersebut sebagai bahan kajian antara lain:

  1. Menurut sepengetahuan peneliti sajak tersebut belum ada yang mengkaji aspek religiusitas yang terkandung di dalamnya.
  2. Sajak tersebut dipilih sebagai bahan kajian karena dalam sajak tersebut tergambar suatu perasaan yang mendalam yang dirasakan oleh si aku link yang berhubungan dengan Tuhan, rasio ataupun rasa kemanusiaan.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang telah dikemukakan, masalah yang akan dibahas dalam penelitian mi adalah:

1.      Bagaimanakah struktur kumpulan puisi “Deru Campur Debu” kanya Chairil Anwar?

2.      Bagaimanakah aspek religiusitas dalam kumpulan puisi “Deru Campur Debu” karya Chairil Anawar?

 

 

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dan penelitian mi antara lain:

  1. Untuk mendeskripsikan struktur kumpulan puisi “Deru Campur Debu” karya Chairil Anwar.
  2. Untuk mendeskripsikan aspek religiusitas dalam kumpulan puisi “Deru Campur Debu” karya Chairil Anwar.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dan penelitian mi antara lain sebagai berikut.

 

a. Manfaat Teoritis

  1. Sebagai informasi tentang religiusitas yang terdapat pada sajak kumpulan dalam puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar.
  2. Dapat menjadi masukan bagi peneliti-peneliti sastra khususnya yang membahas tentang religiusitas dalam sajak.

b. Manfaat Praktis

1.      Dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dalam melakukan penelitian-penelitian sastra khususnya saj ak.

2.      Sebagai bahan informasi dan studi banding bagi penelitian selanjutnya.

BAB II

KAJIANPUSTAKA

Penelitian yang Relevan

Penelitian aspek religiusitas dalam sastra masih sangat kurang dan segi kualitas. Menurut sepengetahuan peneliti, terdapat hanya satu penelitian yang membahas tentang religiusitas dalam sastra, yaitu sastra penelitian yang berjudul Religiusitas Dalam Sastra Jawa Modern oleh Ratnawati, dkk yang diterbitkan pada tahun 2002 oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan secara dominan karya-karya sastra Jawa modern mengungkap aspek religiusitas secara langsung (religiusitas otentik). Lebih detail dijelaskan bahwa religiusitas otentik yang terdapat dalam sastra Jawa modern tersebut tercermin dalam lima sikap yaitu rela, menerima, sabar, hormat dan rukun. Disebutkan pula bahwa dan sejumlah data yang diteliti (novel Jawa modern tahun 1920-1945), hanya ada beberapa karya sastra yang secara eksplisit mengungkapkan aspek religiusitas formal (religiusitas agamis).

Hukum agama yang digunakan dalam karya sastra tersebut adalah hukum agama Islam. Religiusitas formal tergambar dalam sikap Kiay Saleh yang dengan teguh memegang ajaran agamanya yaitu islam, ia mengajarkan anak-anaknya untuk mengaji, sholat serta menanamkan sikap-sikap mulia kepada anak-anaknya. Dalam novel tersebut (Tn Djoko Mulyo) digambarkan bahwa pada akhimya anak Kiay Saleh ada yang menjadi Tuan Guru besar di suatu kampung.

 

Konsep Dasar

Dalam buku ”Prinsip-prinsip dasar metode riset pengajaran dan pembelajaran bahasa” dijelaskan bahwa analisis merupakan produk dari semua pertimbangan dan pemikiran yang terlihat dalam rancang bangun dan rencana penelitian (Henry, 1987: 178).

Dalam hal ini, analisis yang dimaksud adalah analisis tentang segi religiusitas yang terdapat dalam kumpulan puisi ”Deru Campur Debu” karya Chairil Anwar.

Dalam kamus besar bahasa indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kumpulan adalah sesuatu yang telah dikumpulkan, perhimpunan, tem,pat berkumpul (Poerwadarminta, 1987: 475). Sedangkan yang dimaksud dengan puisi adalah bentuk karangan yang terkait oleh rima, ritme, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat (Maskurun 2000:128). Menurut Ensiklopedia Indonesia N-Z halaman 1147 (dalam Tarigan, 1985:4) kata puisi berasal dari bahasa Yunani Poiesis yang berarti penciptaan

Pengertian Puisi ( sajak)

Puisi (n) ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait (KBBI, 2003: 235). Sedangkan Maskurun (2000:128) mengatakan bahwa puisi ialah bentuk karangan yang terkait oleh rima, ritme, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Menurut Ensiklopedia Indonesia N-Z halaman 1147 (dalam Tarigan, 1985:4) kata puisi berasal dari bahasa Yunani Poiesis yang berarti penciptaan. Sedangkan Issac Newton dalam Tarigan mengatakan bahwa puisi adalah nada yang penuh keaslian dan keselarasan (1985:5). Sementara itu, Watts Dunton dalam Tarigan mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi yang konkrit dan bersifat artistik dari fikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama (1985:7). Sedangkan Lescelles Abercrombie dalam Tarigan mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman yang bersifat yang hanya kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa, yang memanfaatkan setiap rencana dengan matang dan tepat guna (1985:7). Serta menurut Wirojosoedarno Pradopo (2005:5) puisi itu karangan terikat oleh: (1) banyak baris dalam tiap bait (Kumplet/Strota, suku karangan); (2) banyak baris dalam tiap bait; (3) banyak suku kata dalam tiap baris; (4) rima; dan (5) irama.

Pendapat lain mengatakan puisi adalah adalah ciptaan tentang sesuatu keindahan dalam bentuk berirama. Citarasa adalah unsur yang diutamakan. Hubungan dengan budaya intelek atau dengan suara hati hanya merupakan hubungan yang selintas. Jika bukan secara kebetulan, ia tidak akan mengena langsung dengan fungsi utamanya atau dengan kebenaran. (Edgar, 1989:44). Pendapat lain mengatakan Puisi pada hakikatnya adalah satu pernyataan perasaan dan pandangan hidup seorang penyair yang memandang sesuatu peristiwa alam dengan ketajaman perasaannya. Perasaan yang tajam inilah yang menggetar rasa hatinya, yang menimbulkan semacam gerak dalam daya rasanya. Lalu ketajaman tanggapan ini berpadu dengan sikap hidupnya mengalir melalui bahasa, menjadilah ia sebuah puisi, satu pengucapan seorang penyair.( Samad Said, 2000:11)

Jenis Puisi

Jenis puisi ini didasarkan pada cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan. Adapun jenis-jenis puisi ini peneliti paparkan sebagai berikut.

Puisi Naratif.

Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair (berisi cerita).Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut “orang-orang tercinta”. Kumpulan baladanya: Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie. Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Rendra juga banyak menulis romansa. Salah satu bagian dalam “Empat Kumpulan Sajak”nya berjudul “Romansa” dan berisi jenis puisi romansa, yakni kisah percintaan sebelum Rendra menikah. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul “Romance Perjalanan”. Kisah cinta ini dapat juga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H. Priangan Si Jelita. Periode 1953-1961 banyak di tulis jenis romansa ini.

Puisi Lirik.

Dalam puisi lirik penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia tidak bercerita. Jenis puisi lirik misalnya:elegi, ode, dan serenada. Elegi adalah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya “Elegi Jakarta” karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta. Serenada adalah sajak percintaan yang bisa dinyanyikan. Kata “serenada” berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak. Misalnya “Serenada Hitam”, “Serenada Biru”, “Serenada Merah Jambu”,”Serenada Ungu”, “Serenada Kelabu”, dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, kecewa, dan sebagainya.

Ode adalah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Yang banyak di tulis adalah pemujaan tehadap tokoh-tokoh yang dikagumi. “Teratai” (Sanusi Pane), “Diponegoro” (Chairil Anwar), dan “Ode Buat Proklamator” (Leon Agusta) merupakan contoh ode yang bagus. Berikut ini kutipan Ode Buat Proklamator, sebuah ode yang memuja tokoh proklamator: Bung Karno dan Bung Hatta. Dalam puisi ini, dapat diungkapkan rasa kagum penyair kepada sang proklamator. Ungkapan-ungkapan rasa kagum itu sangat mengena dan tidak bersifat klise. Kerinduan penyair untuk mendengarkan bara semangat yang ditiupkan lewat pidato-pidato yang berapi-api, dapat kita hayati sejak enam baris terakhir. ( Hukla, 1979:22)

Puisi Deskriptif.

Di depan telah dinyatakan bahwa dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/ peristiwa, benda, atau suasana yang di pandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat di klasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya: puisi satire, kritik social, da puisi-puisi impresionitik. Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya. Kritik social adalah puisi yang juga menyatakan ketidaksenangan terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan/orang tersebut. Kesan penyair juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

Puisi Kamar dan Puisi Auditorium

Istilah puisi kamar dan puisi auditorium juga kita jumpai dalam buku kumpulan puisi Hukla karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang mementingkan suara atau serangkaian suara). Puisi kamar ialah puisi yang cocok di baca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar. Sedangkan puisi auditorium adalah puisi yang cocok untuk dibaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang.

Sajak-sajak Leon Agusta banyak yang dimaksudkan untuk sajak auditorium. Puisi-puisi Rendra kebanyakan adalah puisi auditorium yang baru memperlihatkan keindahannya setelah suaranya terdenagr lewat pembacaan secara keras. Puisi auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan.

Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal

Pembagian puisi oleh David Daiches ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam puisi itu. Puisi fisikal bersifat realistis artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan adalah merupakan obyek ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, puisi yang bersifat impresionistis, dan juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal. Puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Dapat dibandingkan dengan istilah “cinta platonis” yang berarti cinta tanpa nafsu jasmaniah. Puisi-puisi ide atau cita-cita dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik. Puisi-puisi religius juga dapat dikategorikan puisi platonis. Demikian juga puisi yang mengungkapkan cinta luhur seorang kekasih atau orang tua kepada anaknya kiranya dapat dinyatakan sebagai puisi platonik.

Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius di satu pihak dapat dinyatakan sebagai puisi platonik (menggambarkan ide atau gagasan penyair) di lain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (mengajak pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan). Karya-karya mistik Hamzah Fansuri seperti Syair Dagang, Syair perahu, dan Syair Si Burung Pingai dapat dipandang sebagai puisi metefisikal. Kasidah-kasidah karya Barzanji dan Tasawuf karya Rumi kiranya dapt diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.

Puisi Subjektif dan Puisi Objektif

Puisi subyektif juga disebut puisi personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang di tulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian juga puisi lirik dimana aku lirik bicara kepada pembaca.

Puisi obyektif berarti puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa yang subyektif.

Puisi Konkret

Puisi konkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1970-an. X.J. Kennedy memberikan nama jenis puisi tertentu dengan nama puisi konkret, yakni puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut pandang (poems for the eye). Kita mengenal adanya bentuk grafis dari puisi, kaligrafi, idoegramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan pengimajian kat lewat bentuk grafis. Dalam puisi konkret ini, tanda baca dan haruf-huruf sangat potensial membentuk gambar. Gambar ujud fisik yang “kasat mata” lebih dipentingkan daripada makna yang ingin disampaikan. Contoh dalam bahasa Inggris, misalnya karya Joyce Klimer berikut ini:
t
ttt
rrrrr
rrrrrrr
eeeeeeeee
???
Kata yang hendak dinyatakan dalam puisi ini hanyalah “tree”; namun karena membentuk gambar pohon Natal, maka pembaca mengetahui bahwa yang dimaksud penyair adalah pohon Natal. Karya Sutardji banyak sekali yang dapat diklasifikasikan sebagai puisi konkret. Kemudian diikuti oleh penyair-penyair yang lebih muda. Puisi konkret ada yang berbentuk segitiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, bulat telur, spindle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.

 

 

Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis

Puisi diafan ataupuisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret dan bahasa figurative, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat mudah dihayati maknanya. Puisi-puisi anak-anak atau puisi karya mereka yang baru belajar menulis puisi,dapat diklasifikasikan puisi diafan. Mereka belum mampu mengharmoniskan bentuk fisik untuk mengungkapkan makna. Dengan demikian penyair tersebut tidak memiliki kepekaan yang tepat dalm takarannya untuk lambing, kiasan, majas, dan sebagainya. Jika puisinya terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka puisi itu akan menjadi puisi yang bersifat prosaic dan terlalu cerlang sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan.

Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. Ada bermacam-macam makna yang muncul karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragamitu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.
Penyair-penyair besar seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis. Namun belum tentu semua puisi yang dihasilkan bersifat prismatis. Hanya dalam suasana mood seorang penyair besar mampu menciptakan puisi prismatis. Jika puisi itu diciptakan tanpa kekuatan pengucapan, maka niscaya tidak akan dapat dihasilkan puisi prismatis. Puisi-puisi daari orang yang baru belajar menjadi penyair biasanya adalah puisi diafan. Namun kadang-kadang juga kita jumpai puisi gelap.

Puisi Parnasian dan Puisi Inspiratif

Parnasian adalah sekelompok penyair Perancis pada pertengahan akhir abad 19 yang menunjukkan sifat puisi-puisi yang mengandung nilai keilmuan. Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Puisi-puisi yang ditulis oleh ilmuwan yang kebetulan mampu menulis puisi, kebanyakan adalah puisi parnasian. Puisi-puisi Rendra dalam Potret Pembangunan dalam Puisi yang banyak berlatar belakang teori ekonomi dan sosiologi dapaat diklasifikasikan sebagai puisi parnasian. Demikian juga puisi-puisi Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri yang sarat dengan pertimbangan keilmuan.

Puisi inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat ke dalam puisi itu. Dengan “mood”, puisiyang diciptakan akan memiliki tenaga gaib, mempunyai kekuatan untuk memikat perhatian pembaca. Puisi inspiratif biasanya tidak sekali baca habis. Pembaca memerlukan waktu cukup untuk menafsirkan. Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar adalah contoh puisi inspiratif.

Puisi Demonstrasi dan Pamflet

Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufiq Ismail dan mereka yang oleh Jassin disebut angkatan 66. puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi demonstrasi para mahasiswa dan pelajar sekitar tahun 1966. menurut Subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi domonstrasi 1966 bersifat kekitaan, artinya melukiskan perasaan kelompok bukan perasaan individu. Puisi-puisi mereka adlah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional selama penyair terlibat dalam demonstrasi 1966. gaya paradoks dan ironi banyakkita jumpai. Sementara itu, kata-kata yang membakar semangat kelompok banyak dipergunakan, seperti: kebenaran, keadilan, kemanusiaan, tirani, kebatilan, dan sebagainya.

Perkembangan Puisi di Indonesia

Membaca puisi merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa, terutama siswa pada tingkat sekoiah dasar. Pada umumnya siswa SD masih kesulitan dalam membaca karya sastra berbentuk puisi. Hal tersebut terjadi bukan semata-mata karena kesalahan siswa, tetapi termasuk juga para pendidik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Muchlisoh, bahwa para siswa tersebut lebih banyak diberikan bekal pengetahuan berbahasa daripada dilatih bagaimana menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi dalam bentuk lisan maupun tulisan (1994 :3).

Melihat hasil yang demikian, maka yang perlu ditelusuri lebih jauh adalah mengapa hal seperti itu masih terjadi. Apakah hal tersebut disebabkan oleh faktor sarana pembelajaran yang kurang memadai, atau faktor latar belakang, lingkungan sosial siswa yang mendukung tidak terlaksananya proses belajar mengajar dengan baik seperti pengaruh pergaulan tidak terkendali dalam masyarakat siswa itu tinggal dan lain sebagainya, atau faktor guru yang memang tidak memiliki kemampuan mengajar secara efektif, atau percampuran dari faktor-faktor itu semua. Dalam mengatasi hal demikian maka gurulah yang harus berperan aktif sesuai dengan perkembangan zaman. Hal tersebut sesuai dengan pandangan Umar bahwa, “ sejalan dengan konsep-konsep baru ke arah dunia pendidikan, perkembangan iptek yang pesat menyumbangkan cara-cara baru yang lebih mantap terhadap pemecahan masalah pendidikan. Dalam realisasinya dipandu oleh kurikulum yang selalu disempurnakan. Sejalan dengan itu maka guru sebagai suatu komponen sistem pendidikan juga harus berubah” (2000 : 253).

Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang tersebut di atas, membaca puisi sedikit berbeda dengan membaca teks atau bahan bacaan yang lain. Perbedaannya terletak pada cara memahaminya. Jika membaca teks, arti atau isi dapat langsung dipahami atau dimengerti karena kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang sering diucapkan atau didengar dalam kegiatan sehari-hari, baik itu secara formal maupun non formal. Membaca kegiatan  memang lebih sulit Jika dibandingkan dengan membaca prosa drama atau bahkan pengetahuan umum lainnya. Puisi harus ditaksirkan, direnungkan dalam-dalam dan dirasakan karena menyimpan makna yang tersembunyi, yakni banyak menggunakan makna lambang, karena puisi mengutamakan estetika.

Berbagai macam bekal pengetahuan dan pengalaman di atas tersebut bekal awal karena, seperti telah diungkapkan di depan, untuk mampu mengepresikan suatu cipta sastra seseorang harus terus – menerus menggauli karya sastra. Pemilikan bekal pengetahuan dan pengalaman dapat diibaratkan sebagai pemilikan pisau bedah, sedangkan kegiatan menggauli cipta sastra itu sebagai kegiatan pengasahan sehingga pisau itu menjadi tajam dan semakin tajam. Langkah awal dalam pembelajaran membaca puisi ialah memparafrasekan puisi.

Parafrasekan adalah mengubah puisi ke dalam bentuk prosa. Seorang sastrawan yang mengekspresikan karya-karya melalui puisi untuk mendapatkan hasil yang lebih hidup dan indah dibutuhkan keterampilan mengolah kata dengan penambahan, pengulangan, penukaran, penggantian dan penghapusan. Banyak kalimat dalam puisi kadang-kadang tidak lengkap, ada yang terpenggal dan bahkan satu larik puisi ada yang hanya terdiri atas satu perkataan saja. Bangun kalimat yang tidak lengkap atau tak sempurna ini biasanya merupakan salah satu kesulitan di dalam memahami puisi.

Untuk memudahkan puisi terlebih dahulu memparafrasekan puisi yang telah dibaca dengan cara memberi penanda pertalian dengan menambahkan kata penghubung, memberi tanda satu garis miring (/) untuk pengganti jeda dan tanda dua garis miring (//) untuk pengganti titik gramatikal. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu bentuk kebahasaan dari teks puisi yang mematuhi kaidah-kaidah gramatikal yang diterapkan dapat mempermudahkan pembuatan parafrasenya, yakni mengubah isi puisi atau bentuk puisi sehingga menjadi bentuk prosa, yang memberikan gambaran secara umum tentang puisi tersebut.

Teori Struktur

Pendekatan sturktural di pelopori oleh kaum formalis Rusia dan Strukturalisme Praha. Ta dapat pengaruh langsung dan teori Saussure yang mengubah studi linguistik dan pendekatan diatronok ke sinkronik. Studi linguistik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangaflflYa, meainkan hubungan antar unsurnya. Masalah unsur dan hubungan antar unsur merupakan hal yang penting dalam pendekatan ini. Unsur bahasa misalnya terdiri dan unsur fonologi, morfologi, dan sintaktis.

Analisis struktural karya sastra yang dalam hal mi adalah fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikafl fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutanl. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain.

Dengan demikian, pada dasarnya analisis struktura bertujuan untuk memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antara berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan. Analisis struktural tak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya peristiwa, plot, tokoh, latar atau yang lain-lain. Analisis struktural dapat berupa kajian yang menyangkut relasi unsur-unsur dalam mikroteks, suatu keseluruhan dan relasi intertekstual (Hartoko dan Rahmanto, 1986: 136).

Adapun unsur-unsur yang membangun puisi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Tema

Terna adalah makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita (novel), maka masalahnya adalah makna khusus yang mana yang dapat dinyatakan sebagai tema itu, atau jika berbagai makna itu dianggap sebagai bagian-bagian tema, sub-tema, atau tema-tema tambahan

2. Rima

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam link sajak maupun pada akhir lank sajak yang berdekatan

3. Diksi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan diksi yaitu pemilihan kata yang bermakna tepat dan selaras (cocok penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan dengan pokok pembicaraan, peristiwa, dan khalayak pembaca atau pendengar (Poerwadarminta, 1990 : 205).

 

4. Pencitraan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pencitraan yaitu kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase atau kalimat dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi (Poerwadarminta, 1990: 169).

5. Tipognafi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan tipografi yaitu watak pembagian manusia dalam golongan-golongan menunut corak watak masing-masing (Poenwadarminta, 1990 : 952).

6. GayaBahasa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan gaya bahasa yaltu cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan balk dalam bentuk lisan maupun tulisan (Pocrwadarminta, 1990 258).

7. Pesan Moral

Pesan moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya, makna yang disarankan lewat cerita.

Yang dimaksud dengan unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Puisi sebagai salah satu sebuah karya seni sastra yang dapat dikaj i dan bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dan bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Dapat pula puisi dikaji jenis-jenis atau ragamnya, mengingat bahwa ada beragam-ragam puisi. Begitu pula, puisi dapat dikaji dan sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dan waktu ke waktu puisi selalu ditulis cjan dibaca orang dan sepanjang zaman selalu dibaca orang (Pradopo, 2009 3).

Religiusitas dalam Karya Sastra

Religiusitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: pengabdian terhadap agama, kesalehan (Pusat Bahasa, 2003 : 944). Menurut The World Book Dictionary kata religiosity berarti religius feeling or sentiment atau perasaan keagamaan (dalam Amosuwito, 1989: 123).

Lebih lanjut Atmosuwito (1989 : 124) men gatakan bahwa yang dimaksud dengan perasaan keagamaan adalah segala perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan. Perasaan dosa (guilt feeling), perasaan takut (fear to god), kebesaran Tuhan (god’s glory) adalah beberapa contoh untuk menyebutkan sedikit saja”.

Menurut Mangunwijaya (1982: 11-12) “Religiusitas lebih melihat aspek di dalam lubuk hati, riak getaran hati nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menafaskan intimitas jiwa “du Coeur” dalam arti paskal, yakni cita rasa yang menyangkut totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) ke dalam si pribadi manusia. Moedjatno dan Sunardi (dalam Ratnawati, dkk, 2002 : 2). Mendefinisikan bahwa relegiusitas adalah:

1) Suatu yang melintasi agama

2) Melintasi rasionalisasi

3) Menciptakan keterbukaan antar manusia

4) Tidak identik dengan fasifisme

Religiusitas berkaitan dengan kebebasan orang untuk menjaga kualitas keberagamannya jika dilihat dan dimensi yang paling dalam dan personal yang acap kali berada di luar kategori-kategori ajaran agama. Lebih detail Mangunwijaya (1982 15) menegaskan bahwa “Pada dasarnya religiusitas mengatasi atau lebih dalam dan agama yang tampak formal, resmi. Dengan demikian religiusitas hanya berhubungan dengan ketaatan ritual atau hukum agama, tetapi pada yang Iebih dalam, lebih mendasar dalam pribadi manusia, rohnya”.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa religiusitas adalah suatu perasaan keagamaan yang terdapat dalam lubuk hati manusia yang ada hubungannya dengan Tuhan, rasio dan rasa manusiawi yang dirasakan oleh manusia secara mendalam.

Biografi Pengarang

Chairil Anwar lahir di Medan 26 Juli 1922. Ayahnya bernama Toeloes berasal dan Payakumbuh (Taeh, Kabupaten Limo Puluah Koto, Sumatra Barat) dan ibunya benama Saleha yang berasal dan kota Gadang, Sumatra Banat yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan ayah Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Pertama Indonesia.

Chairil Anwar bersekolah Belanda HIS (Hollands Inlandsche Scholl) di Medan, kemudian rnelanjutkan sekolahnya ke MULO (Meer Uietgebred Lager Onderwijs, setingkat SMP). Ia tidak rnenarnatkan sekolah itu karena pindah ke Jakarta mengikuti ibunya yang bercerai dengan ayahnya. Chairil rnenguasai tiga bahasa asing, yaitu Belanda, lnggris dan Jerman secara aktif. Pengusaannya atas ketiga bahasa asing itulah yang rnengantarkan Chairil pada karya-karya sastra dunia. Oleh sebab itu pengarang-pengarang seperti Andre Gide, John Steinbeck, Rainer Marie Riike, Ernest Herningway, Edgar du Peron sangat akrab dengan Chair. Bahkan, karena itu Chairil ikut disudutkan sebagai plagiator.

Chairil rnenikah dengan Hapsah Wiradireja, Wanita Cicurung, Sukaburni yang lahir tanggal II Mei 1922. Ia rnerniliki seorang putri bemarna Evawani Alissa, alurnnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia, lahir 17 Juni 1947. Chairil Anwar rneninggal pada usia 26 tahun 9 bulan, pada tangga! 28 April 1949. Warisan karyanya 70 puisi ash, 4 puisi saduran, 10 puisi terjernahan, 6 prosa ash dan 4 prosa terjemahan.

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Data dan Sumber Data

a. Data

Data yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah tentang konsep religiusitas yang terdapat dalam kumpulan sajak Deru Campur Debu.

b. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini diambil dari buku kurnpulan sajak Chairil Anwar yang berjudul Deru Campur Debu yang diterbitkan oleh Dian Rakyat pada tahun 2000. Buku tersebut berisi 27 sajak karya Chairil Anwar.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Metode Kepustakaan

Metode kepustakaan adalah metode yang digunakan untuk menemukan masalah yang diteliti dengan memanfaatkan pustaka. Dalam hal ini masalah yang akan diteliti adalah tentang konsep religiusitas yang terkandung dalam kumpulan sajak Deru Campur Debu karya Chairil Anwar.

Hal yang sangat mendasari peneliti mengambil kumpulan sajak ini  adalah karena kumpulan sajak Deru Campur Debu karya Chairil Anwar  ini sarat dengan konsep-konsep religiusitas yang terkait dengan dilema kehidupan manusia di dunia.

 

b. Metode Dokumentasi

Dokumentasi adalah sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan (Poerwadarminta, 1984 256). Sedangkan ahli lain mengatakan metode dokumentasi adalah suatu cara memperoleh data dengan jalan mengumpulkan segala macam dokumen serta mengadakan pencatatan sistematis (Netra, 1985 : 77). Dokumen yang dipakai seperti nilai raport siswa yang berkaitan dengan nilai pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Dari kedua pendapat tersebut, maka yang dimaksud dengan metode dokumentasi adalah cara mengumpulkan data mengenai suatu subjek dan objek penelitian melalui segala macam dokumen seperti catatan, agenda, aporaatadokumen lain yang berhubungan dengan penelitian.

c. Metode Telaah

Dalam Kamus Besar Bahsa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan telaah adalah penyelidikan, pemeniksaan penelitian, mempelajani (Poerwadarminta, 1987 917). Sedangkan yang dimaksud dengan isi adalah sesuatu yang ada yang termuat, terkandung (Poerwadarminta, 1987 : 339). Jadi dapat disimpulkan yang dimaksud dengan telaah isi dalam penelitian mi adalah pemeriksaan, penyelidikan sesuatu yang termuat atau terkandung dalam kumpulan puisi “Deru Campur Debu” karya Chairil Anwar.

 

 

3.3 Metode Analisis Data

Analisis data adalah, “proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh melalui metode pengumpulan data, sehingga dapat dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain” ( Yudin, 2007:81). Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode deskriptif kualitatif dan metode deskriptif kuantitatif.  ” metode deskriptif kualitatif yaitu metode yang digunakan untuk memaparkan (mendeskripsi) informasi tertentu, suatu gejala, peristiwa, kejadian sebagaimana adanya. Pada penelitian diskriptif tidak diadakan perlakukan terhadap variabel-variabel yang akan didiskripsikan dan tidak menggunakan angka­-angka” (Anggoro, dkk, 2007:65).

Dalam menganalisis data, maka ada beberapa prosedur yang akan digunakan diantaranya.

1.      Identifikasi Data

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam tahap identifikasi data  adalah sebagai berikut :

a.       memasukkan data yang penting dan benar-benar dibutuhkan

b.      hanya memasukkan data yang bersifat objektif

c.       hanya memasukkan data yang outentik

 

 

2.      Klasifikasi Data

a.       Pengklasifikasian data yaitu penggolongan aneka ragam data itu ke dalam kategori-kategori yang jumlahnya terbatas.

b.      Koding yaitu usaha mengklasifikasikan uraian data dengan jalan menandai masing-masing kode tertentu.

3.      Interpretasi Data

Dalam interpretasi data merupakan acuan penarikan kesimpulan, penulis menggunakan metode deduksi. Metode deduksi adalah suatu pola pemikiran untuk mengambil kesimpulan dimulai dari hal-hal yang sifatnya umum untuk mengajak kepada hal-hal yang khusus. Metode ini digunakan untuk menganalisa menentukan data tentang religiusitas yang terdapat dalam kumpulan sajak karya Chairil Anwar yang benjudul Deru Campur Debu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s